Subnetting adalah proses memecah sebuah jaringan IP yang besar menjadi beberapa sub-jaringan (subnet) yang lebih kecil. Ini adalah salah satu konsep paling penting dalam administrasi jaringan.
Bayangkan Anda memiliki satu blok perumahan besar (network) tetapi Anda ingin membaginya menjadi beberapa gang (subnet) agar lebih teratur. Itulah fungsi subnetting: efisiensi, keamanan, dan peningkatan performa jaringan.
Tujuan utama subnetting adalah untuk mengoptimalkan alokasi IP Address, mengurangi lalu lintas (broadcast) yang tidak perlu, dan mempermudah manajemen jaringan.
Konsep Kunci Subnetting
Untuk bisa melakukan subnetting, Anda harus memahami empat komponen utama dari sebuah alamat IP:
- IP Address: Alamat unik untuk setiap perangkat (misal:
192.168.1.10). - Subnet Mask: Angka yang "menyaring" IP address untuk menentukan bagian mana yang merupakan Network dan bagian mana yang Host (misal:
255.255.255.0atau/24). - Network ID: Alamat pertama dalam sebuah rentang IP, digunakan sebagai "nama" jaringan (misal:
192.168.1.0). Alamat ini tidak bisa digunakan oleh perangkat. - Broadcast ID: Alamat terakhir dalam rentang IP, digunakan untuk mengirim pesan ke semua perangkat di jaringan tersebut (misal:
192.168.1.255). Alamat ini juga tidak bisa digunakan.
Studi Kasus: Subnetting Sederhana
Mari kita ambil contoh. Kita diberi alamat jaringan 192.168.1.0/24. Notasi /24 berarti 24 bit pertama adalah Network dan 8 bit sisanya (32-24) adalah Host. Subnet mask-nya adalah 255.255.255.0.
Jaringan ini memiliki 254 alamat host yang valid (dari .1 hingga .254).
Sekarang, kita ingin membagi jaringan ini menjadi **dua** jaringan yang lebih kecil. Kita "meminjam" 1 bit dari bagian Host untuk dijadikan bagian Network. Ini mengubah notasi kita dari /24 menjadi /25.
Dengan /25 (255.255.255.128), kita mendapatkan 2 subnet:
| Properti | Subnet A (Network 1) | Subnet B (Network 2) |
|---|---|---|
| Network ID | 192.168.1.0 |
192.168.1.128 |
| Subnet Mask | /25 (255.255.255.128) |
/25 (255.255.255.128) |
| Host Pertama | 192.168.1.1 |
192.168.1.129 |
| Host Terakhir | 192.168.1.126 |
192.168.1.254 |
| Broadcast ID | 192.168.1.127 |
192.168.1.255 |
Kesimpulan
Subnetting mungkin terlihat rumit pada awalnya, tetapi ini adalah logika matematika murni. Dengan menguasai "peminjaman" bit (dikenal sebagai CIDR), Anda dapat merancang jaringan yang efisien dan aman, sebuah keahlian wajib bagi setiap profesional TKJ.
Uji Pemahaman: Subnetting IP
A. Contoh Soal dan Jawaban
Klik soal di bawah ini untuk melihat jawabannya.
/26 berarti 26 bit digunakan untuk Network dan 6 bit sisanya untuk Host (karena total bit IP ada 32; 32 - 26 = 6).
- Jumlah Subnet: 2(bit pinjaman). Jika dari /24, kita pinjam 2 bit, jadi 22 = 4 subnet.
- Jumlah Host per Subnet: 26 = 64 alamat.
- Jumlah Host Valid: 64 - 2 (Network ID & Broadcast ID) = 62 host valid.
- Notasi
/28berarti sisa bit host adalah 4 (32-28). - Jumlah total alamat per subnet adalah 24 = 16.
- Kita mencari kelipatan 16 yang terdekat di bawah 50. Kelipatan 16 adalah: 0, 16, 32, 48, 64.
- Jadi, IP
.50berada di dalam blok yang dimulai dari.48. - Network ID:
192.168.10.48 - Broadcast ID:
192.168.10.63(satu angka sebelum kelipatan 16 berikutnya, yaitu 64)
B. Soal Latihan Mandiri
Coba jawab pertanyaan berikut untuk menguji pengetahuan Anda:
- Sebuah kantor memiliki 30 komputer. Berapa notasi CIDR (subnet mask) yang paling efisien untuk digunakan agar bisa mencakup 30 host tersebut?
- Hitunglah Network ID, Host Pertama, Host Terakhir, dan Broadcast ID untuk alamat IP
172.16.20.100/22. (Petunjuk: Ini Kelas B, subnetting terjadi di oktet ketiga). - Jelaskan apa itu *Classless Inter-Domain Routing* (CIDR) dan apa keuntungannya dibandingkan sistem *Classful* (Kelas A, B, C) yang lama?